Belajar Pancasila Dari yang Tak Sempat Bicara

Selama ini hidup bermoral berlangsung dengan nilai-nilai yang dipilihkan dari atas atau diperbolehkan oleh “orang lain”. Diri kita sendiri tidak bisa hadir dalam bahkan menentukan nasib kita sendiri. Tangan kuasa “orang lain” meraba wajah kita sampai mengatur kamar tidur dan dapur, bukan hanya urusan kita dengan “orang lain” itu. Kapan semua orang bisa menjadi “kita” tidak lagi ada dinding atau sekat yang membedakan satu dengan yang lain? Kapan kelas, agama, etnis, atau kategori sosial apa pun itu tidak lagi menghasut kita hingga menjadikan kita canggung untuk bicara satu sama lain, bahkan enggan untuk saling berbagi dan peduli.

“Kita” mensyaratkan adanya ruang bersama di mana semua orang bisa saling menatap dan duduk di arena yang sama karena semua kita menjadi sadar bahwa kebersamaan adalah suatu keniscayaan dalam menjalani (suka dan duka) hidup dalam turbulensi dunia. Lingkaran pertama yang hidup dalam suatu dunia kecil dengan kosmologi nusantara sepatutnya membagi nilai yang sama, terutama dalam menghadapi lingkaran kedua dunia makro yang, seringkali, menuntut lebih banyak dari yang kita punya. Kebersamaan yang dijamin Pancasila (melalui berkeyakinan, berkemanusiaan, bersatu, bermusyawarah, bersikap adil) memperkuat kita sebagai bangsa dalam hubungannya dengan bangsa-bangsa lain dalam dunia yang terus berubah.

Saling mendengar suara yang beragam akan membuka jalan bagi kemelut kita hari ini, akan mengajarkan kita bagaimana sepatutnya negeri ini diurus agar kedamaian warga dapat dijamin dan kesejahteraan dapat diwujudkan. Suara yang beragam perlu diberi ruang untuk hadir, khususnya suara yang selama ini saling meliankan dan saling menduduk kita di ruang berbeda. Duduk bersama saling bercerita dan saling mendengar merupakan jawaban atas banyak pertanyaan yang selama ini tak mampu kita jawab sendiri. Kecerdasan semua menjadi perlu untuk disimak karena “kearifan kolektif” akan menjanjikan Indonesia yang lebih baik. Paling tidak, empat hal akan kita capai dengan mendengar dan belajar dari cerita dan pengalaman yang beragam.

Pertama, memberi kemampuan kita untuk “mengakomodasi perbedaan” karena suara atau perspektif yang berbeda yang memungkinkan kita belajar lebih banyak ilmu dan kecerdasan dalam mengevaluasi gagasan dan praktik-praktik yang selama ini berlangsung dalam masyarakat. Dalam melihat masalah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang kompleks semakin dibutuhkan perspektif yang berbeda. Pendekatan yang bersifat “top-down” telah terbukti tidak mampu bertahan.

Kedua, menyadarkan kita tentang adanya “kekuatan dalam perbedaan” di mana keragaman pengetahuan dan pengalaman berbagai orang dengan latar belakang yang berbeda merupakan kekayaan yang tak ternilai. Seorang diffable (yang berkemampuan berbeda) yang harus di kursi roda atau bahkan tidak dapat melihat bukan berarti dia tidak memiliki kualitas. Banyak kemampuan yang mereka miliki yang tidak mampu dicapai oleh orang kebanyakan. Menghargai setiap suara dengan gagasan dan kearifannya masing-masing memungkinkan kita mendekatan persoalan dengan lebih menyeluruh.

Ketiga, memungkinkan berubahnya perbedaan menjadi “pengalaman bersama”, bukan hanya pengalaman individual atau kelompok tertentu. Ketika suatu perbedaan sudah menjadi pengalaman semua orang, tidak lagi dianggap asing atau ditolak, maka rasa memiliki akan muncul. Identitas sebagai bangsa kemudian lahir berlandaskan pada kesadaran kolektif bahwa kita yang menghirup udara yang sama ini memiliki tanggung jawab dalam memelihara lingkungan yang damai dan tanggung jawab bersama memajukannya.

Keempat, proses belajar dari pengalaman yang berbeda akan mengajarkan kita “melihat dari sudut pandang” yang berbeda yang melahirkan penghargaan atas perbedaan-perbedaan dalam hidup bermasyarakat, bernegara, dan bangsa. Kemampuan melihat dari sudut pandang orang lain akan memungkinkan kita menata kehidupan secara lebih arif dan membiasakan kita mendahulukan orang lain, bukan diri sendiri. Sikap empati dan simpati akan muncul sebagai basis harmoni yang akan terbina dalam kehidupan sosial.

Keberhasilan di dalam mencapai empat tujuan tersebut ditentukan oleh seberapa tingginya tingkat partisipasi setiap orang di dalam membagi pengalaman mereka di satu sisi dan seberapa bervariasinya kelompok mampu dilibatkan dalam diskusi. Partisipasi di sini tidak lantas berarti hanya kelompok atau lapisan tertentu yang diberi ruang untuk bicara, tetapi siapa pun tanpa mengenal batas dapat berbicara yang akan menjadi bahan perenungan bersama. Warga Pancasila tidak terbatas pada suatu entitas tertentu, tetapi bersifat inklusif melibatkan seluruh warga tanpa kecuali. Kemampuan untuk menghadirkan variasi kelompok yang luas akan memperkaya data dan memberikan kemungkinan yang luas bagi analisis lebih lanjut.

Suara yang beragam yang hadir tidak harus dilihat sebagai budaya tanding atas konstruksi negara atas Pancasila yang selama ini berlangsung dan melahirkan berbagai bentuk resistensi, tetapi dapat dilihat sebagai suatu evaluasi kritis warga tentang kepatutan penerapan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman warga berpancasila, tanpa harus menggunakan istilah Pancasila, jangan-jangan jauh lebih maju dibandingkan yang mampu diimajinasikan oleh penguasa ilmu, penguasa materi, atau penguasa negeri. Kita menjadi “lian” yang justru bukan sekadar tidak mampu menerapkan nilai-nilai luhur, tetapi gagal paham tentang apa yang selama ini sudah menjadi “sistem praktik” yang mengakar pada kosmologi jagat dan nilai-nilai yang arif. Proses belajar terhadap bagaimana Pancasila itu berlangsung dalam sistem praktik masyarakat perlu segera dilakukan secara seksama, sebelum semakin banyak salah dan khilaf yang kita buat dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa ini.***

Irwan Abdullah – www.rumahproduksipengetahuan.com –  [email protected]; 0811250724

Yogya yang Dulu, Bukanlah yang Sekarang

Kita yang hidup di Yogya di tahun 2017 ini mengalami dan menjumpai banyak aspek kehidupan yang bukan lagi Yogya tempo hari. Apalagi yang hidup di Yogya pada tahun 1970-an maka Yogya hari ini telah meninggalkan jauh unsur-unsur keyogyaan yang memberi kita cukup bahan romantisme masa lalu. Orang bersepeda yang menjadi pemandangan hingga tahun 1970-an mulai digantikan dengan sepeda motor pada tahun 1980-an, tahun 1990-an mulai banyak kendaraan roda empat yang pada tahun 2000-an kendaraan roda empat ini mulai berebut jalan dengan sepeda motor dan pejalan kaki. Pada periode 2010-an kemacetan pun tak terhindarkan.

Ruang berjalan makin sempit, makin dipinggirkan oleh desakan kendaraan bermotor dan bisingnya kota. Yogya memang tidak separah banyak kota lain di Indonesia, tetapi juga tidak dapat menampik kesemrautan tata ruang dan hiruk pikuk suasana, yang semula “berhati nyaman” sangat terganggu dengan ancaman perubahan mendadak yang dihadapi oleh masyarakat sederhana bersahaja. Sampai kapan mereka bertahan dengan deru suara, dengan debu pembangunan, dan dengan derap perubahan. Mereka terus menonton gerak yang begitu cepat tapi tak cukup cekat untuk terlibat.

Gedung baru berdesak-desakan, mal, hotel dan apartemen berebut tempat di setiap jengkal ruang, menyisakan kegaduhan dan kegalauan pada yang terusik dan terusir ke pinggiran. Sawah nan hijau raib. Tidak jarang poster protes dipasang di mana-mana sebagai ungkapan kegelisahan. Harga tanah di pinggiran pun sudah dua juta rupiah per meter, apalagi di kota, mencapai dua puluh juta. Baik yang punya maupun yang tidak sama saja, sama-sama terangkat pindah ke pinggiran. Meninggalkan pusat peradaban yang mulai dieja oleh pasar. Godaan menjual tanah begitu besar seakan membiarkan para pemilik kapital membangun gedung bertingkat, suatu tabu pada masa lalu.

Relasi sosial baru pun terbentuk sebagai suatu kepatutan. Tidak lagi atas dasar kekerabatan atau ketetanggaan, tetapi telah berubah menjadi transaksional. Ketika kapital mengubah struktur sosial, maka relasi transaksional tak terhindarkan. Sebagai kota pendidikan yang mashur, hubungan mahasiswa dengan Yogya pun menjadi transaksional, tinggal di apartemen atau tempat kost yang didasarkan pada harga. Hingga awal tahun 1980-an, setiap pelajar atau mahasiswa adalah “anak” dari sebuah keluarga di Yogya yang memang “dititipkan” pada keluarga itu dengan pesan jadikan mereka “anak sendiri”. Demikianlah hubungan persaudaraan terbentuk yang melahirkan kapital sosial yang hampir tak ada bandingnya, yang membuat Yogya menjadi masa lalu yang hidup terus bagi setiap orang yang pernah berada di dalamnya. Sekarang pelajar/mahasiswa adalah “penyewa” atau bahkan “pemilik” dari suatu tempat di mana mereka tinggal. Kekeluargaan pun harus menepi memberi jalan bagi para pencari untung. Pola pengelompokan baru pun lahir dalam berbagai format yang diatur oleh uang.

Hubungan sosial baru menstrukturkan alam berpikir dan praktik sosial warganya hingga moralitas baru mendera kesederhanaan. Yogya tidak lagi hadir dalam ritme kehidupan yang selaras dengan tata sosial yang terjaga oleh kebersahajaan dan kerukunan yang damai. Dia didera oleh modernitas yang mengubah sudut-sudut Yogya menjadi komoditas yang membiarkan landscape menjadi mahal dan merelakanethnoscape tergadaikan sehingga kode moral Yogya tersisa pada simbol-simbol masa masa lalu.

Demikianlah kemudian, kita merindukan masa lalu itu. Tidak kurang sinetron Losmenyang ditayangkan pada tahun 1987 mencoba menghadirkan tipe ideal kehidupan Yogya yang sederhana dan bersahaja. Dalam sinetron Losmen digambarkan sebuah penginapan yang sederhana saja tetapi menghadirkan pelayanan istimewa karena nilai-nilai hubungan yang santun, sikap yang tulus penuh pengabdian, sehingga mengkondisikan ketenteraman jiwa bagi tamu losmen. Waktu itu tahun 1980-an kesederhanaan secara empiris hampir pupus oleh ritme modernisasi yang serba cepat dan gemerlap.

Sebuah lagu yang sangat populer, Yogyakarta (oleh Adi Adrian/Katon Bagaskara), berisi lirik yang merindukan Yogya dengan suasana yang bersahaja itu: Pulang ke kotamu/Ada setangkup haru dalam rindu/Masih seperti dulu/Tiap sudut menyapaku bersahabat/Penuh selaksa makna/Terhanyut aku akan nostalgia/Saat kita sering luangkan waktu/Nikmati bersama/Suasana Jogja…. Suasana yang disebut di sini hadir melalui ruang “penjaja makanan kaki lima, musisi jalanan, juga orang-orang yang duduk bersila” yang semua memberikan suasana yang bersahaja menyatu dalam ritme hidup yang selaras satu sama lain.

Demikianlah Yogya menarik minat pelancong atau siapa saja yang mencari dan mendambakan tempo dulu, suasana yang menenteramkan dan enak hati. Yang menarik, setiap orang di Yogya merasa menjadi “representasi keyogyaan” yang punya komitmen menjaga suasana dan nilai. Posisi yang diambil oleh orang Yogya ini telah menyebabkan masa lalu dipanggil ulang, bayangan tentang tempat, suasana, dan nilai masa lalu pun dapat dibangun.

Hari ini rumah makan atau kedai kopi hadir dengan nuansa dan nilai kelampauan, seperti berbagai angkringan, warung bakmi Jawa, warung soto, warung gudeg, restauran, hingga warung kopi dan pecel. Beberapa tempat yang populer, seperti Kopi Klotok, House of Raminten, Angkringan KR, Abhayagiri, Jimbaran, Kedai Kebun, Omah Dhuwur, Mang Engking, Rosella, Jejamuran, Sate Pak Pong, hingga Gudeg Yu Djum, Gudeg Sagan, Gadjah Wong, Bale Raos, Sasanti, Bakmi Mbah Gito atau Mbak Mo, Warung Bu Ageng, Tengkleng Gadjah, Westlake Resto, Soto Sholeh, Pecel Solo, dengan satu dan lain cara menggunakan simbol-simbol yang merepresentasikan Yogya. Sebagian besar bersepakat untuk menjual satu hal: suasana Yogya!

Kehadiran banyak orang ke Yogya pun bersifat nostalgik, dalam kerangka pencarian masa lalu. Entah karena seseorang menjadi bagian dari masa lalu Yogya atas alasan studi atau dinas atau rasa penasaran akibat Yogya yang sering menjadi buah bibir. Hasrat untuk menemukan Yogya dalam format masa lalu ini telah mendorongnya untuk selalu tampil dalam format kelampauan, klasik, dan unik. Seolah tak rela Yogya itu berubah. Film pun selalu menghadirkan suasana masa lalu itu, sebut saja film Ada Apa dengan Cinta 2, Biola tak Berdawai, Guru Bangsa, Jagad X Code, Kapan Kawin, Mengejar Mas Mas, Raksasa dari Yogya, Sang Pencerah, Siti, Talak 3, atau The Philospphers. Semua menghadirkan Yogya dalam suasananya yang damai bersahaja serta romantis. Tidak ada yang buru-buru dan diburu di Yogya. Dalam bahasa Dagadu dikatakan “everyday in Yogya is sunday….”

Demikianlah warga Yogya pandai membaca apa yang tersurat dan tersirat dari hadirnya banyak orang ke Yogya. Memenuhi segala sesuatunya yang dicari orang di Yogya. Tanpa sadar warga Yogya pun terjebak dalam pengabdian tanpa syarat terhadap hasrat warga modern yang mendambakan masa silam. Yogya sibuk mengurus kemauan orang lain, bersolek demi mata pendatang atau pelancong, menyelaraskan dirinya dengan impian tamu demi memuliakan mereka. Apa yang dilakukan warga Yogya hari ini tidak lebih dari menyediakan arena budaya bagi pemuas pengalaman nostalgik, membantu warga menemukan autentisitas kelasnya, dan memfasilitasi warga modern membunuh kebosanan modernitas yang penuh syarat tolok ukur dan keteraturan itu.

Pada saat yang sama Yogya tidak sempat membangun identitasnya dalam menghadapi dunia nyata yang makin global dan termediakan. Tak sempat memikirkan ulang dan merancang ruang budaya adiluhungnya untuk selamat hingga akhir zaman. Ruang-ruang budaya mulai tercabik oleh kuku-kuku kapitalis, nilai-nilai mulai dinegasikan oleh pilihan-pilihan baru, hingga lingkaran kosmologis yang pelan-pelan mulai tergerus arus peradaban. Warga Yogya sepatutnya dididik untuk memampukan mereka mentransformasikan budaya bukan untuk menolak globalisasi atau peradaban lain, melainkan untuk mampu mengambil pelajaran bagi revitalisasi dan ekspansi budaya dalam suatu kancah global. Kita membutuhkan budaya yang memiliki kemampuan menyerang, bukan bertahan. Dengan cara itu kita tidak akan perlu lagi menangisi budaya yang terkubur karena kebangkitan budaya segera terjadi. [] Sebelumnya esai diatas terbit di ranah.id

Maliboro

Malioboro

Manusia Langka Itu Telah Tiada

Dunia paleoantropologi kehilangan seorang begawannya. Dialah Profesor Teuku Jacob. Ilmuwan yang disegani sebagai pembela kebenaran akademik.

TEUKU JACOB

Dia dikagumi di forum-forum ilmiah internasional karena ketajaman dan akurasinya yang hampir sempurna. Khususnya bila berbicara tentang penemuan fosil atau teori manusia purba. Kini tiada lagi tokoh berpostur tubuh kecil membawa koper berisi tulang-belulang itu. Ia hadir di forum-forum penemuan manusia purba dan kerap memunculkan kontroversi.

Dialah Profesor Dr. Teuku Jacob. Si manusia langka itu mengembuskan napas terakhir, Rabu 17 Oktober 2007 pukul 17.45. Almarhum meninggal dalam usia 78 tahun setelah dirawat 13 hari di Rumah Sakit Dokter Sardjito, Yogyakarta, akibat gangguan lever akut dan jantung. Penyakit itu dideritanya lebih dari 20 tahun silam, ketika ia menjabat sebagai Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta (1981-1986).

Prof. Teuku Jacob meninggalkan istri (Nuraini Jacob) dan seorang putri (Nina Nurilani) yang sedang mengandung. Penghormatan terakhir terhadap putra kelahiran Peureulak, Aceh Timur, 6 Desember 1929, ini dilakukan di Balairung UGM keesokan harinya, sebelum dimakamkan dengan upacara militer di kompleks pemakaman keluarga besar UGM, Sawitsari, Sleman, Yogyakarta.

Teuku Jacob, yang juga pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam Tentara Pelajar Resimen Aceh, telah meninggalkan kita dengan segudang perenungan yang menjadi pekerjaan rumah untuk membangun kembali bangsa ini. Hingga akhir hayatnya, Prof. Teuku Jacob masih sempat membagi pikiran dan kepeduliannya tentang kita, tentang bangsa yang carut-marut. Tokoh yang berjiwa nasionalis ini bercerita banyak tentang bangsa kita yang bisa menjadi pesakitan dan terseret ke bawah, makin miskin, korup, rusuh, dan merusak dirinya sendiri.

Dalam satu tulisannya di koran Kedaulatan Rakyat, Yogyakarata, edisi 17 Maret 2005, Teuku Jacob bercerita tentang ketahanan dan daya tahan bangsa kita yang makin lemah. ”Parasit merajalela dalam kelemahan kita, baik ekstoparasit pada permukaan badan pemerintah maupun endoparasit dalam badan pemerintah. Dari luar konglomerat dan pengacara melakukan kolusi, sedangkan dari dalam bermain birokrasi, tentara dan polisi, penegak hukum, dan wakil rakyat dalam menjadikan tanah air kita terkorup di dunia. Akibatnya adalah pauperisasi (pemiskinan) rakyat banyak, pembodohan, dan kesakitan.”

Dari tulisan, gagasan yang disampaikan dalam berbagai forum, atau obrolan santai di kantor atau rumah, tampak bahwa Teuku Jacob telah menjadikan dirinya bukan hanya seorang ahli paleoantropologi atau antropologi budaya. Melainkan juga sebagai penjaga moral dunia akademik dan dunia kehidupan yang terbentang luas. Dia selalu korektif untuk hal-hal yang memang perlu diluruskan.

Baik itu soal penanggalan yang keliru, logika yang menyimpang, maupun soal kerancuan penggunaan istilah. Juga soal-soal salah kaprah tindakan kita dalam berbangsa dan bernegara, tentu saja soal penyelewengan dalam arti luas. Mantan Rektor UGM Prof. Sofian Effendi menyebut Prof. Teuku Jacob seorang perfeksionis karena ketelitiannya.

Sikap korektif dan perfeksionis itu juga yang tampak dalam kontroversi kasus penemuan di Liang Bua yang diaku sebagai manusia Flores (Homo floresiensis). Prof. Teuku Jacob bersama kolega terdekatnya, Prof. R.P. Soejono, menolak pendapat Peter Brown dan Michael Morwood yang dinilai telah melakukan sejumlah penyimpangan ilmiah.

Teuku Jacob menilai temuan itu sebagai spesies manusia biasa yang mengalami kelainan genetik. Yakni penyakit microcephaly yang menyebabkan pengecilan tulang. Dia berkesimpulan bahwa yang dikatakan manusia Flores itu tidak lain Homo sapiens dengan ras Austrolomelanesoid, bukan spesies baru.

Prestasi dan reputasi Prof. Teuku Jacob menempati lapisan ilmuwan kelas dunia. Ia terlibat dalam 20 organisasi profesi di dalam maupun luar negeri. Antara lain American Association for the Advancement of Science, New York Academic of Sciences, International Association of Human Biologists, dan Association Internationale pour I’Etitude de la Paleontologie Humaine.

Prof. Teuku Jacob mendapat 21 penghargaan dari pemerintah dan berbagai lembaga nasional serta internasional. Misalnya Medali Paul Broca, CNRS (1980), Medali Emas, Indian Board of Alternative Medicines (1993), Hamengkubuwono IX Award, UGM (1997), dan Bintang Mahaputra Nararya (2002). Karyanya pun tersebar luas dalam berbagai bentuk, baik berupa buku, artikel jurnal, kolom surat kabar, laporan penelitian, maupun ratusan makalah seminar.

Beberapa karya terkenal, misalnya, ”The Sixth Skull Cap of Pithecanthropus Erectus”,American Journal of Physical Anthropology (1966), ”Some Problems Pertaining to the Racial History of the Indonesia Region”, Utrecht (1967), serta ”The Phitecanthropus of Indonesia”,Bulletins et Memoires de Societe d’Anthropologie de Paris (1975).

Ditambah lagi dengan bukunya berjudul Menuju Teknologi Berperikemanusiaan (1996) danTragedi Negara Kesatuan Kleptokratis (2004). Kumpulan tulisannya, Antropologi Biologis(2000), yang diedit murid kesayangannya, Prof. Dr. Etty Indriati, telah menjadi bahan bacaan wajib yang sangat mendasar dalam bidang kedokteran, antropologi, arkeologi, bahkan kebudayaan secara umum.

Tidak salah kalau Rektor UGM, dalam sambutan yang dibacakan Ketua Majelis Guru Besar Prof. Suryo Guritno, mengatakan bahwa Teuku Jacob adalah sosok ilmuwan sejati. Dia tidak hanya memburu manusia purba ke seluruh benua, melainkan juga memburu buku, memburu ilmu pengetahuan melalui sumber apa pun.

Nuraini Jacob, istrinya, bilang: ”Kekasih Bapak yang pertama itu buku-bukunya. Kekasih nomor dua baru saya dan anak.” Menonton berita dan membaca buku, ensiklopedia, dan berbagai sumber acuan memang menjadi gaya hidupnya sehari-hari.

Kegemarannya membaca dan membuka kamus/ensiklopedia ini menyebabkan ia memiliki wawasan sangat luas, menembus batas-batas disiplin ilmu yang ia geluti. Seorang yang pernah duduk dan berbincang dengan beliau pasti menyadari betapa waktu beberapa jam bisa berlalu tanpa terasa mendengarkan cerita tentang makanan dari berbagai daerah dan belahan dunia.

Teuku Jacob. Istimewa

Teuku Jacob. Istimewa

Juga tentang teknologi yang dipakai di berbagai suku, obat-obat tradisional di berbagai tempat di berbagai masa. Tentu saja juga soal perang dan perdamaian. Tentang penemuan-penemuan ilmiah dalam berbagai bidang hingga soal bahasa dan parfum.

Teuku Jacob tidak hanya mengetahui banyak tentang tempat di dunia, mulai desa terpencil habitat hidup suku hingga kota-kota besar pusat perkembangan hedonisme. Berbicara dengan Teuku Jacob menyadarkan kita bahwa dunia ini tanpa batas. Ruang maupun waktu dapat diseberangi begitu saja dan antara satu dengan yang lain memiliki hubungan erat.

Demikianlah, sesuatu yang kita hadapi sebagai fenomena masa depan selalu memiliki penjelasan dan koneksitas historis bagi Teuku Jacob. Dengan cara ini juga ia mengoreksi kesalahan dan inkonsistensi dalam berpikir, hingga sampai pada penggunaan istilah, bahasa, atau pemahaman yang sesat. Demikian pula hal yang terjadi di suatu tempat, bagi Teuku Jacob, selalu terkait dengan sesuatu yang ada di tempat lain. Dia sebuah kamus yang memiliki jawaban untuk banyak istilah sulit dan masalah pelik.

Menanggapi kemampuan semacam ini, Prof. Dr. Sofian Effendi yang mengenal betul sosok almarhum mengatakan, ”Horizon keilmuwan Teuku Jacob sangat luas, bisa berbincang panjang lebar dalam bidang apa saja, tidak hanya kedokteran dan paleoantropologi. Beliau memiliki pengetahuan yang lintas batas dan lintas temporal.”

Di tengah iklim yang over-specialization, lanjut Prof. Sofian, orang seperti Teuku Jacob sudah langka. Pandangan serupa disampaikan kolega almarhum dari fakultas kedokteran yang juga Ketua Senat Akademik UGM, ”Teuku Jacob telah memberikan pelajaran yang penting tentang bagaimana dunia eksakta tidak bisa dipisahkan dari sejarah dan filsafat. Walaupun berasal dari fakultas kedokteran, Teuku Jacob banyak melihat fenomena dari perspektif kebudayaan.”

Pandangan Prof. Teuku Jacob menegaskan adanya sesuatu yang perlu dikaji ulang untuk kemaslahatan bangsa ini, bahwa pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan. Sebuah kesalahan, kata Prof. Sutaryo, ketika Departemen Pendidikan Nasional dipisahkan dari kebudayaan. Antara pendidikan dan kebudayaan memiliki kaitan langsung yang harus diperlakukan sebagai satu kesatuan.

Teuku Jacob telah memperlihatkan betapa kebebasan berpikir itu dibutuhkan dan pembatasan-pembatasan melalui sekat-sekat keilmuwan mengandung dan mengundang sejumlah masalah bagi bangsa ini. Beliau bahkan pernah mengemukakan gagasan untuk menerima lulusan SMA IPS di fakultas kedokteran.

Di balik segala kesungguhan, pandangan yang terbuka, disiplin waktu yang dipegang teguh, dan kesan yang menakutkan bagi mahasiswa, Teuku Jacob adalah orang yang rendah hati dan sangat bersahaja. Hidupnya jauh dari kemewahan duniawi, suatu potret yang semakin buram di zaman yang materialistik sekarang ini. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang terus melaju ke depan, dengan segala kecanggihan, dia tetap berdiri di situ dengan teguh.

Teuku Jacob

Teuku Jacob

Prof. Teuku Jacob mengingatkan kita tentang masa lalu yang jangan dilupakan. Pada saat masa lalu semakin ditinggalkan akibat euforia masa depan, pada saat etika dan moral makin dilecehkan, kesederhanaan makin ditertawakan, Teuku Jacob berdiri dengan tegar konsisten mengorek masa lalu demi masa depan yang lebih baik. Ia menjaga palang moral, dan dengan kesederhanaannya, mengingatkan kita tentang esensi kehidupan manusia.

Innalillahi wa’innailaihi roji’un, manusia langka itu telah meninggalkan kita. Meninggalkan perenungan yang dalam bagi yang mau mengerti tentang sangkan paraning dumadimanusia Indonesia.

Irwan Abdullah
Guru besar antropologi, Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta