Belajar Pancasila Dari yang Tak Sempat Bicara

Selama ini hidup bermoral berlangsung dengan nilai-nilai yang dipilihkan dari atas atau diperbolehkan oleh “orang lain”. Diri kita sendiri tidak bisa hadir dalam bahkan menentukan nasib kita sendiri. Tangan kuasa “orang lain” meraba wajah kita sampai mengatur kamar tidur dan dapur, bukan hanya urusan kita dengan “orang lain” itu. Kapan semua orang bisa menjadi “kita” tidak lagi ada dinding atau sekat yang membedakan satu dengan yang lain? Kapan kelas, agama, etnis, atau kategori sosial apa pun itu tidak lagi menghasut kita hingga menjadikan kita canggung untuk bicara satu sama lain, bahkan enggan untuk saling berbagi dan peduli.

“Kita” mensyaratkan adanya ruang bersama di mana semua orang bisa saling menatap dan duduk di arena yang sama karena semua kita menjadi sadar bahwa kebersamaan adalah suatu keniscayaan dalam menjalani (suka dan duka) hidup dalam turbulensi dunia. Lingkaran pertama yang hidup dalam suatu dunia kecil dengan kosmologi nusantara sepatutnya membagi nilai yang sama, terutama dalam menghadapi lingkaran kedua dunia makro yang, seringkali, menuntut lebih banyak dari yang kita punya. Kebersamaan yang dijamin Pancasila (melalui berkeyakinan, berkemanusiaan, bersatu, bermusyawarah, bersikap adil) memperkuat kita sebagai bangsa dalam hubungannya dengan bangsa-bangsa lain dalam dunia yang terus berubah.

Saling mendengar suara yang beragam akan membuka jalan bagi kemelut kita hari ini, akan mengajarkan kita bagaimana sepatutnya negeri ini diurus agar kedamaian warga dapat dijamin dan kesejahteraan dapat diwujudkan. Suara yang beragam perlu diberi ruang untuk hadir, khususnya suara yang selama ini saling meliankan dan saling menduduk kita di ruang berbeda. Duduk bersama saling bercerita dan saling mendengar merupakan jawaban atas banyak pertanyaan yang selama ini tak mampu kita jawab sendiri. Kecerdasan semua menjadi perlu untuk disimak karena “kearifan kolektif” akan menjanjikan Indonesia yang lebih baik. Paling tidak, empat hal akan kita capai dengan mendengar dan belajar dari cerita dan pengalaman yang beragam.

Pertama, memberi kemampuan kita untuk “mengakomodasi perbedaan” karena suara atau perspektif yang berbeda yang memungkinkan kita belajar lebih banyak ilmu dan kecerdasan dalam mengevaluasi gagasan dan praktik-praktik yang selama ini berlangsung dalam masyarakat. Dalam melihat masalah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang kompleks semakin dibutuhkan perspektif yang berbeda. Pendekatan yang bersifat “top-down” telah terbukti tidak mampu bertahan.

Kedua, menyadarkan kita tentang adanya “kekuatan dalam perbedaan” di mana keragaman pengetahuan dan pengalaman berbagai orang dengan latar belakang yang berbeda merupakan kekayaan yang tak ternilai. Seorang diffable (yang berkemampuan berbeda) yang harus di kursi roda atau bahkan tidak dapat melihat bukan berarti dia tidak memiliki kualitas. Banyak kemampuan yang mereka miliki yang tidak mampu dicapai oleh orang kebanyakan. Menghargai setiap suara dengan gagasan dan kearifannya masing-masing memungkinkan kita mendekatan persoalan dengan lebih menyeluruh.

Ketiga, memungkinkan berubahnya perbedaan menjadi “pengalaman bersama”, bukan hanya pengalaman individual atau kelompok tertentu. Ketika suatu perbedaan sudah menjadi pengalaman semua orang, tidak lagi dianggap asing atau ditolak, maka rasa memiliki akan muncul. Identitas sebagai bangsa kemudian lahir berlandaskan pada kesadaran kolektif bahwa kita yang menghirup udara yang sama ini memiliki tanggung jawab dalam memelihara lingkungan yang damai dan tanggung jawab bersama memajukannya.

Keempat, proses belajar dari pengalaman yang berbeda akan mengajarkan kita “melihat dari sudut pandang” yang berbeda yang melahirkan penghargaan atas perbedaan-perbedaan dalam hidup bermasyarakat, bernegara, dan bangsa. Kemampuan melihat dari sudut pandang orang lain akan memungkinkan kita menata kehidupan secara lebih arif dan membiasakan kita mendahulukan orang lain, bukan diri sendiri. Sikap empati dan simpati akan muncul sebagai basis harmoni yang akan terbina dalam kehidupan sosial.

Keberhasilan di dalam mencapai empat tujuan tersebut ditentukan oleh seberapa tingginya tingkat partisipasi setiap orang di dalam membagi pengalaman mereka di satu sisi dan seberapa bervariasinya kelompok mampu dilibatkan dalam diskusi. Partisipasi di sini tidak lantas berarti hanya kelompok atau lapisan tertentu yang diberi ruang untuk bicara, tetapi siapa pun tanpa mengenal batas dapat berbicara yang akan menjadi bahan perenungan bersama. Warga Pancasila tidak terbatas pada suatu entitas tertentu, tetapi bersifat inklusif melibatkan seluruh warga tanpa kecuali. Kemampuan untuk menghadirkan variasi kelompok yang luas akan memperkaya data dan memberikan kemungkinan yang luas bagi analisis lebih lanjut.

Suara yang beragam yang hadir tidak harus dilihat sebagai budaya tanding atas konstruksi negara atas Pancasila yang selama ini berlangsung dan melahirkan berbagai bentuk resistensi, tetapi dapat dilihat sebagai suatu evaluasi kritis warga tentang kepatutan penerapan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman warga berpancasila, tanpa harus menggunakan istilah Pancasila, jangan-jangan jauh lebih maju dibandingkan yang mampu diimajinasikan oleh penguasa ilmu, penguasa materi, atau penguasa negeri. Kita menjadi “lian” yang justru bukan sekadar tidak mampu menerapkan nilai-nilai luhur, tetapi gagal paham tentang apa yang selama ini sudah menjadi “sistem praktik” yang mengakar pada kosmologi jagat dan nilai-nilai yang arif. Proses belajar terhadap bagaimana Pancasila itu berlangsung dalam sistem praktik masyarakat perlu segera dilakukan secara seksama, sebelum semakin banyak salah dan khilaf yang kita buat dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa ini.***

Irwan Abdullah – www.rumahproduksipengetahuan.com –  irwan.fib@ugm.ac.id; 0811250724

The Real Perfomance Art by Didik Ninik Thowok – Satu Hari Kuliah Budaya Bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah

Sekolah Pasca Sarjana UGM akan menyelenggarakan “Satu Hari Kuliah Budaya Bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah.” Kuliah ini terbuka untuk umum dan gratis. Perkuliahan akan diselenggarakan pada:
Tanggal: Sabtu, 13 Desember 2008
Jam: 9:00 – 16:00 WIB
Tempat : Ruang Seminar, lantai 5. Gedung Sekolah Pascasarjana UGM. Jl. Teknika Utara, Pogung, Sleman, Yogyakarta
Materi:

  1. 09:00-10:00 Konteks: Lokalisasi, Nasionalisasi, Globalisasi
  2. 10:00-11:00 Budaya: Generik VS Differensial
  3. 11:00-12:00 Konstruksi Budaya atas Realitas
  4. 12:00-13:00 Reproduksi Budaya atas Realitas
  5. 13:00-14:00 Budaya Material, Konsumerisme dan Gaya Hidup
  6. 14:00-15:00 Tubuh: Konstruksi dan Reproduksi Budaya
  7. 15:00-16:00 Masa Depan Studi Budaya
  8. 16:00-Penutupan (Ramah Tamah)

Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menyelenggarakan Kuliah Kebudayaan Sabtu 13 Desember 2008 pukul 09.00 sampai selesai. “Sehari Bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah.” : GRATIS.

Irwan Abdullah seorang Guru Besar Antropologi dan Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sebagai Antropolog ia melakukan penelitian di berbagai tempat di Indonesia dan Asia Tenggara dalam bidang kemiskinan, jaminan sosial, krisis ekonomi, gender, migrasi, konflik, agama dan bencana alam, identitas budaya dan gaya hidup.

Kuliah Umum Kebudayaan”Sehari Bersama Irwan Abdullah” dengan Opening Ceremony Saman dan Serune Kalee Aceh; Performing Art Didik Nini Towok.

MASA DEPAN STUDI BUDAYA

Kebudayaan merupakan blue print yang telah menjadi kompas dalam perjalanan hidup manusia, ia menjadi pedoman tingkah laku. Keberlanjutan kebudayaan untuk melihat bagaimana proses pewarisan nilai itu terjadi. Seperti yang dibayangkan Clifford Geertz bahwa budaya itu, “merupakan pola dari pengertian-pengertian atau makna-makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol dan ditransmisikan secara historis. (Abdullah, 2007: 1). Aspek kesejarahan dalam budaya ini merupakan bahan diskusi kebudayaan yang belum selesai karena dinamika dalam pengertian dan makna belum menjadi wilayah diskusi kebudayaan secara mendalam. Untuk itulah, kuliah kebudayaan ini diselenggarakan.

Pemosisian kebudayaan sebagai sistem simbol ini mengandung persoalan penting yang kemudian menjadi dasar argumen Kuliah Kebudayaan bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah. Pertama, tentang batas-batas dari ruang budaya yang mempengaruhi pembentukan simbol dan makna yang ditransmisikan secara historis. Kedua, batas-batas dari kebudayaan yang menentukan konstruksi makna dipengaruhi oleh kekuasaan yang melibatkan sejumlah aktor. Ketiga, pola hubungan kekuasaan yang diejawantah dalam identitas kelompok dan kelembagaan, yang menjadikannya realitas obyektif dan menentukan cara pandang kelompok. Keempat, identitas yang terbentuk melalui serangkaian simbol selain diterima juga menjadi obyek pembicaraan, perdebatan, dan gugatan yang menegaskan.

Perubahan konteks tersebut dilihat oleh Irwan Abdullah membawa dua konsekuensi besar. Pertama, mempengaruhi paradigma dan perspektif kebudayaan yang ditandai dengan munculnya wacana keilmuan dan penelitian yang semarak. Kedua, memberi pengaruh besar dalam praktik kebudayaan yang tampak dari lahirnya konsumerisme yang meluas. Kecenderungan ini kemudian melahirkan sebuah pertanyaan besar: Ada apa dengan Kebudayaan? Prediksi ke depan menjadi relevan dalam hal ini.

Materi kuliah yang akan disajikan mencakup: Konteks Lokalisasi, Nasionalisasi, Globalisasi: Budaya Generik vs Diferensial; Konstruksi Budaya atas Realitas; Reproduksi Budaya; dan Masa Depan Studi Budaya. Kuliah ini menampilkan dosen tamu Wening Oedasmoro, Agus Indiyanto dan Zamzam.

Tubuh: Konstruksi dan Reproduksi Budaya – Satu Hari Kuliah Budaya Bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah

Sekolah Pasca Sarjana UGM akan menyelenggarakan “Satu Hari Kuliah Budaya Bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah.” Kuliah ini terbuka untuk umum dan gratis. Perkuliahan akan diselenggarakan pada:
Tanggal: Sabtu, 13 Desember 2008
Jam: 9:00 – 16:00 WIB
Tempat : Ruang Seminar, lantai 5. Gedung Sekolah Pascasarjana UGM. Jl. Teknika Utara, Pogung, Sleman, Yogyakarta
Materi:

  1. 09:00-10:00 Konteks: Lokalisasi, Nasionalisasi, Globalisasi
  2. 10:00-11:00 Budaya: Generik VS Differensial
  3. 11:00-12:00 Konstruksi Budaya atas Realitas
  4. 12:00-13:00 Reproduksi Budaya atas Realitas
  5. 13:00-14:00 Budaya Material, Konsumerisme dan Gaya Hidup
  6. 14:00-15:00 Tubuh: Konstruksi dan Reproduksi Budaya
  7. 15:00-16:00 Masa Depan Studi Budaya
  8. 16:00-Penutupan (Ramah Tamah)

Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menyelenggarakan Kuliah Kebudayaan Sabtu 13 Desember 2008 pukul 09.00 sampai selesai. “Sehari Bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah.” : GRATIS.

Irwan Abdullah seorang Guru Besar Antropologi dan Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sebagai Antropolog ia melakukan penelitian di berbagai tempat di Indonesia dan Asia Tenggara dalam bidang kemiskinan, jaminan sosial, krisis ekonomi, gender, migrasi, konflik, agama dan bencana alam, identitas budaya dan gaya hidup.

Kuliah Umum Kebudayaan”Sehari Bersama Irwan Abdullah” dengan Opening Ceremony Saman dan Serune Kalee Aceh; Performing Art Didik Nini Towok.

MASA DEPAN STUDI BUDAYA

Kebudayaan merupakan blue print yang telah menjadi kompas dalam perjalanan hidup manusia, ia menjadi pedoman tingkah laku. Keberlanjutan kebudayaan untuk melihat bagaimana proses pewarisan nilai itu terjadi. Seperti yang dibayangkan Clifford Geertz bahwa budaya itu, “merupakan pola dari pengertian-pengertian atau makna-makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol dan ditransmisikan secara historis. (Abdullah, 2007: 1). Aspek kesejarahan dalam budaya ini merupakan bahan diskusi kebudayaan yang belum selesai karena dinamika dalam pengertian dan makna belum menjadi wilayah diskusi kebudayaan secara mendalam. Untuk itulah, kuliah kebudayaan ini diselenggarakan.

Pemosisian kebudayaan sebagai sistem simbol ini mengandung persoalan penting yang kemudian menjadi dasar argumen Kuliah Kebudayaan bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah. Pertama, tentang batas-batas dari ruang budaya yang mempengaruhi pembentukan simbol dan makna yang ditransmisikan secara historis. Kedua, batas-batas dari kebudayaan yang menentukan konstruksi makna dipengaruhi oleh kekuasaan yang melibatkan sejumlah aktor. Ketiga, pola hubungan kekuasaan yang diejawantah dalam identitas kelompok dan kelembagaan, yang menjadikannya realitas obyektif dan menentukan cara pandang kelompok. Keempat, identitas yang terbentuk melalui serangkaian simbol selain diterima juga menjadi obyek pembicaraan, perdebatan, dan gugatan yang menegaskan.

Perubahan konteks tersebut dilihat oleh Irwan Abdullah membawa dua konsekuensi besar. Pertama, mempengaruhi paradigma dan perspektif kebudayaan yang ditandai dengan munculnya wacana keilmuan dan penelitian yang semarak. Kedua, memberi pengaruh besar dalam praktik kebudayaan yang tampak dari lahirnya konsumerisme yang meluas. Kecenderungan ini kemudian melahirkan sebuah pertanyaan besar: Ada apa dengan Kebudayaan? Prediksi ke depan menjadi relevan dalam hal ini.

Materi kuliah yang akan disajikan mencakup: Konteks Lokalisasi, Nasionalisasi, Globalisasi: Budaya Generik vs Diferensial; Konstruksi Budaya atas Realitas; Reproduksi Budaya; dan Masa Depan Studi Budaya. Kuliah ini menampilkan dosen tamu Wening Oedasmoro, Agus Indiyanto dan Zamzam.

Budaya Material, Konsumerisme, dan Gaya Hidup – Satu Hari Kuliah Budaya Bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah

Sekolah Pasca Sarjana UGM akan menyelenggarakan “Satu Hari Kuliah Budaya Bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah.” Kuliah ini terbuka untuk umum dan gratis. Perkuliahan akan diselenggarakan pada:
Tanggal: Sabtu, 13 Desember 2008
Jam: 9:00 – 16:00 WIB
Tempat : Ruang Seminar, lantai 5. Gedung Sekolah Pascasarjana UGM. Jl. Teknika Utara, Pogung, Sleman, Yogyakarta
Materi:

  1. 09:00-10:00 Konteks: Lokalisasi, Nasionalisasi, Globalisasi
  2. 10:00-11:00 Budaya: Generik VS Differensial
  3. 11:00-12:00 Konstruksi Budaya atas Realitas
  4. 12:00-13:00 Reproduksi Budaya atas Realitas
  5. 13:00-14:00 Budaya Material, Konsumerisme dan Gaya Hidup
  6. 14:00-15:00 Tubuh: Konstruksi dan Reproduksi Budaya
  7. 15:00-16:00 Masa Depan Studi Budaya
  8. 16:00-Penutupan (Ramah Tamah)

Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menyelenggarakan Kuliah Kebudayaan Sabtu 13 Desember 2008 pukul 09.00 sampai selesai. “Sehari Bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah.” : GRATIS.

Irwan Abdullah seorang Guru Besar Antropologi dan Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sebagai Antropolog ia melakukan penelitian di berbagai tempat di Indonesia dan Asia Tenggara dalam bidang kemiskinan, jaminan sosial, krisis ekonomi, gender, migrasi, konflik, agama dan bencana alam, identitas budaya dan gaya hidup.

Kuliah Umum Kebudayaan”Sehari Bersama Irwan Abdullah” dengan Opening Ceremony Saman dan Serune Kalee Aceh; Performing Art Didik Nini Towok.

MASA DEPAN STUDI BUDAYA

Kebudayaan merupakan blue print yang telah menjadi kompas dalam perjalanan hidup manusia, ia menjadi pedoman tingkah laku. Keberlanjutan kebudayaan untuk melihat bagaimana proses pewarisan nilai itu terjadi. Seperti yang dibayangkan Clifford Geertz bahwa budaya itu, “merupakan pola dari pengertian-pengertian atau makna-makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol dan ditransmisikan secara historis. (Abdullah, 2007: 1). Aspek kesejarahan dalam budaya ini merupakan bahan diskusi kebudayaan yang belum selesai karena dinamika dalam pengertian dan makna belum menjadi wilayah diskusi kebudayaan secara mendalam. Untuk itulah, kuliah kebudayaan ini diselenggarakan.

Pemosisian kebudayaan sebagai sistem simbol ini mengandung persoalan penting yang kemudian menjadi dasar argumen Kuliah Kebudayaan bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah. Pertama, tentang batas-batas dari ruang budaya yang mempengaruhi pembentukan simbol dan makna yang ditransmisikan secara historis. Kedua, batas-batas dari kebudayaan yang menentukan konstruksi makna dipengaruhi oleh kekuasaan yang melibatkan sejumlah aktor. Ketiga, pola hubungan kekuasaan yang diejawantah dalam identitas kelompok dan kelembagaan, yang menjadikannya realitas obyektif dan menentukan cara pandang kelompok. Keempat, identitas yang terbentuk melalui serangkaian simbol selain diterima juga menjadi obyek pembicaraan, perdebatan, dan gugatan yang menegaskan.

Perubahan konteks tersebut dilihat oleh Irwan Abdullah membawa dua konsekuensi besar. Pertama, mempengaruhi paradigma dan perspektif kebudayaan yang ditandai dengan munculnya wacana keilmuan dan penelitian yang semarak. Kedua, memberi pengaruh besar dalam praktik kebudayaan yang tampak dari lahirnya konsumerisme yang meluas. Kecenderungan ini kemudian melahirkan sebuah pertanyaan besar: Ada apa dengan Kebudayaan? Prediksi ke depan menjadi relevan dalam hal ini.

Materi kuliah yang akan disajikan mencakup: Konteks Lokalisasi, Nasionalisasi, Globalisasi: Budaya Generik vs Diferensial; Konstruksi Budaya atas Realitas; Reproduksi Budaya; dan Masa Depan Studi Budaya. Kuliah ini menampilkan dosen tamu Wening Oedasmoro, Agus Indiyanto dan Zamzam.

Reproduksi Budaya atas Realitas – Satu Hari Kuliah Budaya Bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah

Sekolah Pasca Sarjana UGM akan menyelenggarakan “Satu Hari Kuliah Budaya Bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah.” Kuliah ini terbuka untuk umum dan gratis. Perkuliahan akan diselenggarakan pada:
Tanggal: Sabtu, 13 Desember 2008
Jam: 9:00 – 16:00 WIB
Tempat : Ruang Seminar, lantai 5. Gedung Sekolah Pascasarjana UGM. Jl. Teknika Utara, Pogung, Sleman, Yogyakarta
Materi:

  1. 09:00-10:00 Konteks: Lokalisasi, Nasionalisasi, Globalisasi
  2. 10:00-11:00 Budaya: Generik VS Differensial
  3. 11:00-12:00 Konstruksi Budaya atas Realitas
  4. 12:00-13:00 Reproduksi Budaya atas Realitas
  5. 13:00-14:00 Budaya Material, Konsumerisme dan Gaya Hidup
  6. 14:00-15:00 Tubuh: Konstruksi dan Reproduksi Budaya
  7. 15:00-16:00 Masa Depan Studi Budaya
  8. 16:00-Penutupan (Ramah Tamah)

Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menyelenggarakan Kuliah Kebudayaan Sabtu 13 Desember 2008 pukul 09.00 sampai selesai. “Sehari Bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah.” : GRATIS.

Irwan Abdullah seorang Guru Besar Antropologi dan Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sebagai Antropolog ia melakukan penelitian di berbagai tempat di Indonesia dan Asia Tenggara dalam bidang kemiskinan, jaminan sosial, krisis ekonomi, gender, migrasi, konflik, agama dan bencana alam, identitas budaya dan gaya hidup.

Kuliah Umum Kebudayaan”Sehari Bersama Irwan Abdullah” dengan Opening Ceremony Saman dan Serune Kalee Aceh; Performing Art Didik Nini Towok.

MASA DEPAN STUDI BUDAYA

Kebudayaan merupakan blue print yang telah menjadi kompas dalam perjalanan hidup manusia, ia menjadi pedoman tingkah laku. Keberlanjutan kebudayaan untuk melihat bagaimana proses pewarisan nilai itu terjadi. Seperti yang dibayangkan Clifford Geertz bahwa budaya itu, “merupakan pola dari pengertian-pengertian atau makna-makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol dan ditransmisikan secara historis. (Abdullah, 2007: 1). Aspek kesejarahan dalam budaya ini merupakan bahan diskusi kebudayaan yang belum selesai karena dinamika dalam pengertian dan makna belum menjadi wilayah diskusi kebudayaan secara mendalam. Untuk itulah, kuliah kebudayaan ini diselenggarakan.

Pemosisian kebudayaan sebagai sistem simbol ini mengandung persoalan penting yang kemudian menjadi dasar argumen Kuliah Kebudayaan bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah. Pertama, tentang batas-batas dari ruang budaya yang mempengaruhi pembentukan simbol dan makna yang ditransmisikan secara historis. Kedua, batas-batas dari kebudayaan yang menentukan konstruksi makna dipengaruhi oleh kekuasaan yang melibatkan sejumlah aktor. Ketiga, pola hubungan kekuasaan yang diejawantah dalam identitas kelompok dan kelembagaan, yang menjadikannya realitas obyektif dan menentukan cara pandang kelompok. Keempat, identitas yang terbentuk melalui serangkaian simbol selain diterima juga menjadi obyek pembicaraan, perdebatan, dan gugatan yang menegaskan.

Perubahan konteks tersebut dilihat oleh Irwan Abdullah membawa dua konsekuensi besar. Pertama, mempengaruhi paradigma dan perspektif kebudayaan yang ditandai dengan munculnya wacana keilmuan dan penelitian yang semarak. Kedua, memberi pengaruh besar dalam praktik kebudayaan yang tampak dari lahirnya konsumerisme yang meluas. Kecenderungan ini kemudian melahirkan sebuah pertanyaan besar: Ada apa dengan Kebudayaan? Prediksi ke depan menjadi relevan dalam hal ini.

Materi kuliah yang akan disajikan mencakup: Konteks Lokalisasi, Nasionalisasi, Globalisasi: Budaya Generik vs Diferensial; Konstruksi Budaya atas Realitas; Reproduksi Budaya; dan Masa Depan Studi Budaya. Kuliah ini menampilkan dosen tamu Wening Oedasmoro, Agus Indiyanto dan Zamzam.

Konstruksi Budaya atas Realitas – Satu Hari Kuliah Budaya Bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah

Sekolah Pasca Sarjana UGM akan menyelenggarakan “Satu Hari Kuliah Budaya Bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah.” Kuliah ini terbuka untuk umum dan gratis. Perkuliahan akan diselenggarakan pada:
Tanggal: Sabtu, 13 Desember 2008
Jam: 9:00 – 16:00 WIB
Tempat : Ruang Seminar, lantai 5. Gedung Sekolah Pascasarjana UGM. Jl. Teknika Utara, Pogung, Sleman, Yogyakarta
Materi:

  1. 09:00-10:00 Konteks: Lokalisasi, Nasionalisasi, Globalisasi
  2. 10:00-11:00 Budaya: Generik VS Differensial
  3. 11:00-12:00 Konstruksi Budaya atas Realitas
  4. 12:00-13:00 Reproduksi Budaya atas Realitas
  5. 13:00-14:00 Budaya Material, Konsumerisme dan Gaya Hidup
  6. 14:00-15:00 Tubuh: Konstruksi dan Reproduksi Budaya
  7. 15:00-16:00 Masa Depan Studi Budaya
  8. 16:00-Penutupan (Ramah Tamah)

Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menyelenggarakan Kuliah Kebudayaan Sabtu 13 Desember 2008 pukul 09.00 sampai selesai. “Sehari Bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah.” : GRATIS.

Irwan Abdullah seorang Guru Besar Antropologi dan Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sebagai Antropolog ia melakukan penelitian di berbagai tempat di Indonesia dan Asia Tenggara dalam bidang kemiskinan, jaminan sosial, krisis ekonomi, gender, migrasi, konflik, agama dan bencana alam, identitas budaya dan gaya hidup.

Kuliah Umum Kebudayaan”Sehari Bersama Irwan Abdullah” dengan Opening Ceremony Saman dan Serune Kalee Aceh; Performing Art Didik Nini Towok.

MASA DEPAN STUDI BUDAYA

Kebudayaan merupakan blue print yang telah menjadi kompas dalam perjalanan hidup manusia, ia menjadi pedoman tingkah laku. Keberlanjutan kebudayaan untuk melihat bagaimana proses pewarisan nilai itu terjadi. Seperti yang dibayangkan Clifford Geertz bahwa budaya itu, “merupakan pola dari pengertian-pengertian atau makna-makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol dan ditransmisikan secara historis. (Abdullah, 2007: 1). Aspek kesejarahan dalam budaya ini merupakan bahan diskusi kebudayaan yang belum selesai karena dinamika dalam pengertian dan makna belum menjadi wilayah diskusi kebudayaan secara mendalam. Untuk itulah, kuliah kebudayaan ini diselenggarakan.

Pemosisian kebudayaan sebagai sistem simbol ini mengandung persoalan penting yang kemudian menjadi dasar argumen Kuliah Kebudayaan bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah. Pertama, tentang batas-batas dari ruang budaya yang mempengaruhi pembentukan simbol dan makna yang ditransmisikan secara historis. Kedua, batas-batas dari kebudayaan yang menentukan konstruksi makna dipengaruhi oleh kekuasaan yang melibatkan sejumlah aktor. Ketiga, pola hubungan kekuasaan yang diejawantah dalam identitas kelompok dan kelembagaan, yang menjadikannya realitas obyektif dan menentukan cara pandang kelompok. Keempat, identitas yang terbentuk melalui serangkaian simbol selain diterima juga menjadi obyek pembicaraan, perdebatan, dan gugatan yang menegaskan.

Perubahan konteks tersebut dilihat oleh Irwan Abdullah membawa dua konsekuensi besar. Pertama, mempengaruhi paradigma dan perspektif kebudayaan yang ditandai dengan munculnya wacana keilmuan dan penelitian yang semarak. Kedua, memberi pengaruh besar dalam praktik kebudayaan yang tampak dari lahirnya konsumerisme yang meluas. Kecenderungan ini kemudian melahirkan sebuah pertanyaan besar: Ada apa dengan Kebudayaan? Prediksi ke depan menjadi relevan dalam hal ini.

Materi kuliah yang akan disajikan mencakup: Konteks Lokalisasi, Nasionalisasi, Globalisasi: Budaya Generik vs Diferensial; Konstruksi Budaya atas Realitas; Reproduksi Budaya; dan Masa Depan Studi Budaya. Kuliah ini menampilkan dosen tamu Wening Oedasmoro, Agus Indiyanto dan Zamzam.

Budaya: Generik versus Differensial – Satu Hari Kuliah Budaya Bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah

Sekolah Pasca Sarjana UGM akan menyelenggarakan “Satu Hari Kuliah Budaya Bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah.” Kuliah ini terbuka untuk umum dan gratis. Perkuliahan akan diselenggarakan pada:
Tanggal: Sabtu, 13 Desember 2008
Jam: 9:00 – 16:00 WIB
Tempat : Ruang Seminar, lantai 5. Gedung Sekolah Pascasarjana UGM. Jl. Teknika Utara, Pogung, Sleman, Yogyakarta
Materi:

  1. 09:00-10:00 Konteks: Lokalisasi, Nasionalisasi, Globalisasi
  2. 10:00-11:00 Budaya: Generik VS Differensial
  3. 11:00-12:00 Konstruksi Budaya atas Realitas
  4. 12:00-13:00 Reproduksi Budaya atas Realitas
  5. 13:00-14:00 Budaya Material, Konsumerisme dan Gaya Hidup
  6. 14:00-15:00 Tubuh: Konstruksi dan Reproduksi Budaya
  7. 15:00-16:00 Masa Depan Studi Budaya
  8. 16:00-Penutupan (Ramah Tamah)

Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menyelenggarakan Kuliah Kebudayaan Sabtu 13 Desember 2008 pukul 09.00 sampai selesai. “Sehari Bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah.” : GRATIS.

Irwan Abdullah seorang Guru Besar Antropologi dan Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sebagai Antropolog ia melakukan penelitian di berbagai tempat di Indonesia dan Asia Tenggara dalam bidang kemiskinan, jaminan sosial, krisis ekonomi, gender, migrasi, konflik, agama dan bencana alam, identitas budaya dan gaya hidup.

Kuliah Umum Kebudayaan”Sehari Bersama Irwan Abdullah” dengan Opening Ceremony Saman dan Serune Kalee Aceh; Performing Art Didik Nini Towok.

MASA DEPAN STUDI BUDAYA

Kebudayaan merupakan blue print yang telah menjadi kompas dalam perjalanan hidup manusia, ia menjadi pedoman tingkah laku. Keberlanjutan kebudayaan untuk melihat bagaimana proses pewarisan nilai itu terjadi. Seperti yang dibayangkan Clifford Geertz bahwa budaya itu, “merupakan pola dari pengertian-pengertian atau makna-makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol dan ditransmisikan secara historis. (Abdullah, 2007: 1). Aspek kesejarahan dalam budaya ini merupakan bahan diskusi kebudayaan yang belum selesai karena dinamika dalam pengertian dan makna belum menjadi wilayah diskusi kebudayaan secara mendalam. Untuk itulah, kuliah kebudayaan ini diselenggarakan.

Pemosisian kebudayaan sebagai sistem simbol ini mengandung persoalan penting yang kemudian menjadi dasar argumen Kuliah Kebudayaan bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah. Pertama, tentang batas-batas dari ruang budaya yang mempengaruhi pembentukan simbol dan makna yang ditransmisikan secara historis. Kedua, batas-batas dari kebudayaan yang menentukan konstruksi makna dipengaruhi oleh kekuasaan yang melibatkan sejumlah aktor. Ketiga, pola hubungan kekuasaan yang diejawantah dalam identitas kelompok dan kelembagaan, yang menjadikannya realitas obyektif dan menentukan cara pandang kelompok. Keempat, identitas yang terbentuk melalui serangkaian simbol selain diterima juga menjadi obyek pembicaraan, perdebatan, dan gugatan yang menegaskan.

Perubahan konteks tersebut dilihat oleh Irwan Abdullah membawa dua konsekuensi besar. Pertama, mempengaruhi paradigma dan perspektif kebudayaan yang ditandai dengan munculnya wacana keilmuan dan penelitian yang semarak. Kedua, memberi pengaruh besar dalam praktik kebudayaan yang tampak dari lahirnya konsumerisme yang meluas. Kecenderungan ini kemudian melahirkan sebuah pertanyaan besar: Ada apa dengan Kebudayaan? Prediksi ke depan menjadi relevan dalam hal ini.

Materi kuliah yang akan disajikan mencakup: Konteks Lokalisasi, Nasionalisasi, Globalisasi: Budaya Generik vs Diferensial; Konstruksi Budaya atas Realitas; Reproduksi Budaya; dan Masa Depan Studi Budaya. Kuliah ini menampilkan dosen tamu Wening Oedasmoro, Agus Indiyanto dan Zamzam.

Lokalisasi, Nasionalisasi, Globalisasi – Satu Hari Kuliah Budaya Bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah

Sekolah Pasca Sarjana UGM akan menyelenggarakan “Satu Hari Kuliah Budaya Bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah.” Kuliah ini terbuka untuk umum dan gratis. Perkuliahan akan diselenggarakan pada:
Tanggal: Sabtu, 13 Desember 2008
Jam: 9:00 – 16:00 WIB
Tempat : Ruang Seminar, lantai 5. Gedung Sekolah Pascasarjana UGM. Jl. Teknika Utara, Pogung, Sleman, Yogyakarta
Materi:

  1. 09:00-10:00 Konteks: Lokalisasi, Nasionalisasi, Globalisasi
  2. 10:00-11:00 Budaya: Generik VS Differensial
  3. 11:00-12:00 Konstruksi Budaya atas Realitas
  4. 12:00-13:00 Reproduksi Budaya atas Realitas
  5. 13:00-14:00 Budaya Material, Konsumerisme dan Gaya Hidup
  6. 14:00-15:00 Tubuh: Konstruksi dan Reproduksi Budaya
  7. 15:00-16:00 Masa Depan Studi Budaya
  8. 16:00-Penutupan (Ramah Tamah)

Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menyelenggarakan Kuliah Kebudayaan Sabtu 13 Desember 2008 pukul 09.00 sampai selesai. “Sehari Bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah.” : GRATIS.

Irwan Abdullah seorang Guru Besar Antropologi dan Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sebagai Antropolog ia melakukan penelitian di berbagai tempat di Indonesia dan Asia Tenggara dalam bidang kemiskinan, jaminan sosial, krisis ekonomi, gender, migrasi, konflik, agama dan bencana alam, identitas budaya dan gaya hidup.

Kuliah Umum Kebudayaan”Sehari Bersama Irwan Abdullah” dengan Opening Ceremony Saman dan Serune Kalee Aceh; Performing Art Didik Nini Towok.

MASA DEPAN STUDI BUDAYA

Kebudayaan merupakan blue print yang telah menjadi kompas dalam perjalanan hidup manusia, ia menjadi pedoman tingkah laku. Keberlanjutan kebudayaan untuk melihat bagaimana proses pewarisan nilai itu terjadi. Seperti yang dibayangkan Clifford Geertz bahwa budaya itu, “merupakan pola dari pengertian-pengertian atau makna-makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol dan ditransmisikan secara historis. (Abdullah, 2007: 1). Aspek kesejarahan dalam budaya ini merupakan bahan diskusi kebudayaan yang belum selesai karena dinamika dalam pengertian dan makna belum menjadi wilayah diskusi kebudayaan secara mendalam. Untuk itulah, kuliah kebudayaan ini diselenggarakan.

Pemosisian kebudayaan sebagai sistem simbol ini mengandung persoalan penting yang kemudian menjadi dasar argumen Kuliah Kebudayaan bersama Prof. Dr. Irwan Abdullah. Pertama, tentang batas-batas dari ruang budaya yang mempengaruhi pembentukan simbol dan makna yang ditransmisikan secara historis. Kedua, batas-batas dari kebudayaan yang menentukan konstruksi makna dipengaruhi oleh kekuasaan yang melibatkan sejumlah aktor. Ketiga, pola hubungan kekuasaan yang diejawantah dalam identitas kelompok dan kelembagaan, yang menjadikannya realitas obyektif dan menentukan cara pandang kelompok. Keempat, identitas yang terbentuk melalui serangkaian simbol selain diterima juga menjadi obyek pembicaraan, perdebatan, dan gugatan yang menegaskan.

Perubahan konteks tersebut dilihat oleh Irwan Abdullah membawa dua konsekuensi besar. Pertama, mempengaruhi paradigma dan perspektif kebudayaan yang ditandai dengan munculnya wacana keilmuan dan penelitian yang semarak. Kedua, memberi pengaruh besar dalam praktik kebudayaan yang tampak dari lahirnya konsumerisme yang meluas. Kecenderungan ini kemudian melahirkan sebuah pertanyaan besar: Ada apa dengan Kebudayaan? Prediksi ke depan menjadi relevan dalam hal ini.

Materi kuliah yang akan disajikan mencakup: Konteks Lokalisasi, Nasionalisasi, Globalisasi: Budaya Generik vs Diferensial; Konstruksi Budaya atas Realitas; Reproduksi Budaya; dan Masa Depan Studi Budaya. Kuliah ini menampilkan dosen tamu Wening Oedasmoro, Agus Indiyanto dan Zamzam.

Membimbing KKN UGM ke pulau terluar, pulau Aceh, disambut Camat dan Kepala Desa

Membimbing KKN ke Pulau Terluar di Aceh

Membimbing KKN UGM ke pulau terluar, pulau Aceh, disambut Camat dan Kepala Desa

Membimbing KKN UGM ke pulau terluar, pulau Aceh, disambut Camat dan Kepala Desa

Membimbing KKN UGM ke pulau terluar, pulau Aceh, disambut Camat dan Kepala Desa

Di Pulau Nasi, pulau terluar di Aceh Besar

Di Pulau Nasi, pulau terluar di Aceh Besar